IQNA:
15:22 - December 26, 2016
Berita ID: 3470899
IRAN (IQNA) - Telah dipaparkan sejumlah riwayat dan pelbagai pandangan terkait tempat kelahiran Nabi Isa (As) menurut Islam dan Kristen. Namun menurut literatur sejarah, kota Bethlehem di tepi barat sungai Yordania dan kawasan Buratha Baghdad adalah dua tempat yang sering kali dipaparkan sebagai tempat kelahiran Nabi mulia ini ketimbang lainnya.

Menurut laporan IQNA, tanggal 25 Desember bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Isa al-Masih (As), 12 hari Krismas dengan dimulainya hari kelahiran al-Masih pada tanggal 25 Desember dan terus berlanjut sampai perayaan Epifani (Hari Raya Penampakan Tuhan).

Nabi Isa (As) termasuk nabi agung yang mana nama beliau dalam al-Quran diiringi dengan penuh keutamaan, keagungan dan dibanggakan sebagai Abdullah, kalimat Allah, ruh Allah dan diafirmasi dengan Roh Qudus, dan dikemukakan nama Isa dalam 45 tempat dan dalam beberapa tempat dituturkan dengan gelar al-Masih.

Ibundanya, Maryam putri Imran temasuk salah seorang wanita pilihan dan suci semesta alam, yang sampai pada maqom taqarrub kepada Allah. Wanita agung ini yang ditemui oleh malaikat Allah dan diberikan kabar gembira tentang kelahiran putranya al-Masih termasuk salah satu dari empat wanita suci dan pilihan semesta, yang memiliki keutamaan tiada tara.

Apa Kata Al-Quran tentang Tempat Kelahiran Nabi Isa (AS)?

Terkait tempat kelahiran Nabi Isa (As) Allah dalam surah Maryam ayat 22 dan 23 berfirman, "Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.

Tempat kelahiran Nabi Isa (As) tidak dapat dipastikan, karena selain keragaman riwayat, juga ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang kisah Nabi Isa (As) tidak menentukan secara mendetail dan dalam riwayat-riwayat tersebut hanya mengisyaratkan bahwa ibunda Maryam (As) melahirkan beliau di tempat yang jauh dan bersandar pada pangkal pohon kurma saat merasakan rasa sakit melahirkan. Dengan tanpa menentukan tempat kurma tersebut dan tempat kelahiran secara mendetail.

Dalam surah Maryam ayat 16 – 25 Allah swt juga berfirman, "Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam al-Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa." Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" Jibril berkata: "Demikianlah." Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan." Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.” Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.

Tempat Kelahiran Nabi Isa (As) dalam Literatur Syiah

Riwayat pertama: Nabi Isa (As) dilahirkan di Bethlehem: dari Hisyam bin Salim meriwayatkan dari Abi Abdillah (yakni Imam Ja’far bin Muhammad as-Shadiq as) dimana Rasulullah (Saw) di sela-sela sabdanya dalam menyifati mi’raj menjelaskan, Jibril berkata kepadaku, turunlah dan dirikanlah salat. Dan akupun melakukan hal tersebut. Lantas Jibril berkata, apakah engkau tahu dimana engkau salat? Aku menjawab, tidak. Jibril berkata, engkau salat di Bethlehem dan Bethlehem terletak disamping Baitul Maqdis, tempat dilahirkannya Isa al-Masih (As). (Bihar al-Anwar, jild. 14, hlm. 208)

Riwayat kedua: Sayyidah Maryam melahirkan Nabi Isa (As) di Karbala dan tempat pusara Imam Husein (As), diriwayatkan dari Abu Hamzah al-Tsumali, dimana Imam Sajjad (As) dalam tafsir surah Maryam ayat 22 menjelaskan, Sayyidah Maryam keluar dari Damaskus sampai akhirnya tiba di Karbala dan melahirkan beliau, yang nantinya Imam Husein dikuburkan di situ dan pada malam itu ia kembali. (Tahdzib al-Ahkam, jild. 6, hlm. 73; Wasail al-Syiah, jild. 14, hlm. 517)

Riwayat ketiga: Tempat kelahiran Nabi Isa (As) di atas batu putih di kawasan Buratha, yang sekarang ini tempat masjid jami’ Buratha. Syaikh Mufid yang masyhur dengan Ibnu al-Mu’allim, faqih dan teolog serta ulama terkemuka Syiah abad keempat Hijriah, dengan bersandar pada ucapan Imam Sajjad (As) meriwayatkan hadis secara terperinci, dimana Imam Ali (As) saat pulang dari perang melawan Khawarij dan melewati kawasan al-Zawraa Baghdad dan tiba di sebelah timur kawasan as-Sawad di Irak di situ beliau bertemu dengan seorang pendeta di sebuah gereja dan kedua-duanya saling berbincang-bincang.

Sang pendeta berkata, saya mendengar sifatmu dalam Injil dan engkau akan turun di kawasan Buratha, dimana merupakan rumah Maryam (As) dan tempat Isa al-Masih (As). Kemudian Amirul Mukminin turun di kawasan tersebut dan beliau menjejakkan kakinya di atas tanah, kemudian muncullah mata air. Imam berkata ini adalah mata air Maryam (As) yang muncul untuknya. Kemudian beliau melanjutkan, galilah di sini seukuran 17 lengan. Kemudian para sahabat beliau menggali tempat tersebut dan muncullah batu putih. Imam mengatakan, di atas batu inilah Maryam melahirkan putranya Isa (As). Dan melaksanakan salat di tempat ini. Kemudian beliau berkata, kawasan Buratsa adalah rumah Maryam (As) dan hanya Allah swt lah yang mengetahui hakekat sesuatu. (Bihar al-Anwar, jild. 14, hlm. 210)

Tempat Kelahiran Isa (As) menurut Literatur Kristen

Meski sekarang ini tempat kelahiran Nabi Isa masih diperselisihkan, namun sebagian meyakini tempat kelahiran beliau di kota Bethlehem, di tepi barat sungai Yordania dan di kawasan Nasirah (Nasaret), yang selanjutnya tempat tersebut diubah menjadi tempat ibadah umat Kristen dan dibangun gereja Kelahiran Masih.

Dikatakan tempat ini sebelumnya juga tempat ibadah, namun kontras dengan nash gamblang al-Quran yang menegaskan Nabi Isa (As) dilahirkan bukan di tempat peribadahan.

Gereja ini sekarang populer dengan gerja Nativity atau Gereja Kelahiran, dimana arsitek dalamnya memiliki kemiripan dengan Masjid al-Aqsha dan merupakan gereja tersuci umat Kristiani.

Arti Bethlehem dalam bahasa Ibrani adalah rumah roti, kota ini terletak 10 kilo meter Baitul Maqdis sekarang ini dalam ketinggian 756 meter dari permukaan laut. Kota ini pada dalam Perjanjian Baru sangat dikenal, dan itu juga dikarenakan Nabi Daud (As), raja terpopuler dan terpenting Bani Israel lahir di situ dan tempat kelahiran al-Masih diubah menjadi gereja historis yang sangat penting dengan nama Gereja Nativity.

Gereja yang dibangun oleh imperium Romawi Konstantin pada tahun 335 Masehi ini termasuk gereja Palestina dan dunia tertua dan yang lebih penting dari itu semua, acara keagamaan diselenggarakan dari abad 6 Masehi, yakni sejak imperium Romawi Konstantin mendirikan gereja tersebut masih dalam bentuk tersebut sampai sekarang ini.

Imperium Konstantin mendirikan tiga gereja, yang pertama adalah gereja Nativity dan itu pada awal-awal abad keempat Masehi, yakni pada masa Kristen diumumkan sebagai agama resmi imperium Romawi. Kinerja kekaisaran ini dibangun dalam rangka menjawab permintaan Uskup Makarios yang dipaparkan di dewan umum gejera kota Niqah (di barat laut Turki sekarang ini) pada tahun 325 Masehi.

Gereja ini mencakup gua populer kelahiran Nabi Isa (As), yang di situ digantungkan bintang perak yang bertuliskan "Hic de Virgine Maria Jesus Christus natus est” yang artinya adalah Di sinilah Yesus Kristus Anak Perawan Maria Dilahirkan dan dipasang 15 lampu, yang melambangkan 15 kelompok Kristen.

Termasuk fitur struktural yang dibuat oleh imperium Konstantin ini adalah dalam bangunan tersebut dibangun sebuah serambi yang menghubungkan dengan sebuah gua, dimana nabi Isa dilahirkan disitu dan bintang perak disimpan disitu. Di sebelah barat Bangunan terdapat sebuah Basilika (gereja penting dan besar yang memiliki bentuk salib), yang bersambung dengan sebuah ruang besar, yang dilingkari dengan tiang-tiang dan menghadap ke kota Bethlehem dan termasuk bangunan historis terpenting yang terkait dengan hari raya Krismas adalah gua kelahiran Nabi Isa (As) tersebut.

Apa asal gua tersebut? Dan bagaimana muncul?

Pada tahun 1223 Masehi, Fransiskus Assisi, santos Italia dan pendiri Ordo Fransiskan dan termasuk penyeru perdamaian terpopuler dalam sejarah memutuskan untuk membawa kenangan anak kecil yang lahir di Bethlehem guna merasakan derita dan siksa yang diemban oleh anak kecil yang baru lahir tersebut dan bagaimanakah ia berada di kandang kotor di tengah-tengah kotoran keledai dan sapi.

Francis dengan dorongan spiritual, yang dapat menamainya dengan realisme Kristen, yakni keyakinan menghormati jasad sejatinya berseberangan dengan ideologi prioritas ekstrem ruh atas badan.

Perbedaan Peristiwa Sejarah Kelahiran Nabi Isa dalam Al-Quran dan Injil al-Masih

Tempat Kelahiran

Gambaran yang diberikan oleh Injil kepada kita dengan gambaran yang diberikan oleh al-Quran amatlah berbeda. Cerita dalam Injil adalah Maryam bersama suami atau tunangannya Yusuf Najjar pegi ke selatan Palestina yakni Bethlehem untuk berpartisipasi dalam sensus penduduk; ia tidak menemukan tempat di Bethlehem dikarenakan ramai dan terpaksa melewati malam sampai pagi di sebuah kandang, yang mana pada malam tersebut Isa lahir ke dunia; yakni tempat kelahiran beliau adalah kandang kambing dan sebuah kandang untuk menyimpan hewan ternak dan dua orang juga hadir, yang pertama Yusuf Najjar dan satunya adalah Maryam; sementara al-Quran memperkenalkan tempat tersebut adalah tempat sebelah timur, "Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam al-Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur”. Dan Tidak ada yang menyertai Maryam dan pandangan al-Quran tentang tempat kelahiran dan peristiwa-peristiwa kelahiran beliau dengan penuh penghormatan, sementara Injil menukilkan sebaliknya, yang jauh dari penghormatan.

Proses Kelahiran:

Terdapat perbedaan antara al-Quran dan Injil tentang proses kelahiran. Injil mengatakan, ketika Isa lahir di kandang kambing, para malaikat mengabarkan kepada para pengembala domba yang ada di sekitar tempat tersebut agar datang, di situ telah dilahirkan seorang bayi yang penuh berkah dan para Majusi datang ke tempat kelahiran tersebut yang datang dari timur sedang mencari sebuah bintang; dan ketika semua orang datang ke tempat tersebut, kesemuanya beranggapan bahwa Isa adalah anak Maryam dan Yusuf, dan menurut penuturan Injil, tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa Isa tidak memiliki ayah.

Namun menurut Islam tidaklah demikian. Islam tidak menuturkan nama Yusuf dan menjelaskan di tempat kelahiran tersebut hanya ada Maryam seorang dan awalnya ia agak sedikit gelisah, namun Allah berkata ini adalah kehendak Ilahi.

Semua merasa takjub atas kelahiran Isa dan semua menuduh Maryam, dan Nabi Isa berbicara sedari bayi guna menghilangkan tuduhan tersebut, dan masalah kelahiran Isa berkembang pesat di tengah-tengah Bani Israel. Surah Maryam ayat 27-32 mengatakan, "Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina", maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?" Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

Krismas

Krismas atau hari Natal diselenggarakan guna memperingati hari kelahiran Nabi Isa (As).

Banyak sekali anggota gereja Katolik dan para penganut Protestan merayakan hari Natal pada tanggal 25 Desember dan menyelenggarakannya pada malam ke 24 Desember. Anggota mayoritas gereja Ortodoks di belahan penjuru dunia juga merayakan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran al-Masih.

Namun sebagian umat Kristen Ortodoks di Rusia, Ukrainia dan kawasan suci (sekitar Palestina) dan tempat-tempat lainnya merayakan hari Natal pada tanggal 7 Januari. Anggota gereja Armenia sesuai dengan tradisi, merayakan hari kelahiran dan juga hari mandi ta’mid bersamaan dengan hari keenam Januari.

12 hari Krismas dengan dimulainya hari kelahiran al-Masih pada tanggal 25 Desember dan terus berlanjut sampai perayaan Epifani (Hari Raya Penampakan Tuhan). Meskipun hari raya terpenting dalam kalender Kristen adalah hari raya Paskah, namun banyak sekali masyarakat, khususnya di negara Amerika dan Kanada menganggap hari Natal sebagai seremonial tahunan Kristen terpenting. Meski hari tersebut dikenal sebagai hari raya agamis, sejak awal-awal abad keduapuluh Masehi dan seterusnya secara luas diselenggarakan sebagai sebuah perayaan non agamis dan bagi sejumlah masyarakat, hari-hari tersebut merupakan hari berkumpulnya sanak kerabat dan teman serta hari berbagi. Hari Natal diselenggarakan dengan aturan khusus, semisalnya dengan merias sebuah pohon cemara, dan tokoh fiktif yang bernama Santa Claus memiliki peran signifikan pada hari tersebut.

Apa Landasan Pohon Natal?

Di hari Natal, lapangan-lapangan umum di Eropa dan Amerika dihiasi dengan pohon natal dan hal ini juga memiliki sebuah landasan sejarah. Pohon tersebut menurut jutaan masyarakat dunia merupakan lambang kesucian, yang telah dilakukan oleh masyarakat-masyarakat terdahulu. Di Romawi mereka menghiasi rumah dan terasnya dengan pohon-pohon bertepatan dengan perayaan pekan akhir tahun. Di Atena menyelenggarakan perayaan mengitari sebuah pohon, yang ada di tanah tengah kota (pohon dunia) dan sekarang ini jutaan masyarakat dari pelbagai kawasan dunia merayakan lewat pohon tersebut dan itu juga bersumber dari kesucian dan kemuliaan yang dimiliki pohon tersebut. Hal ini selain pemilihan pohon sebagai simbol untuk menjalankan ajaran hari raya Natal dan tahun baru dan itu juga dikarenakan kedudukan tinggi pohon, yang menurut banyak masyarakat adalah bagian dari dunia.

Analisis Penulis Mesir tentang Krismas

Situs Erem News juga memublikasikan sebuah makalah dari Emil Amin, penulis Mesir terkait kelahiran Nabi Isa, dimana di situ dikemukakan, di hari Natal, lapangan-lapangan umum Eropa dan Amerika dihiasi dengan pohon-pohon Natal dan hal ini juga memiliki landasan sejarah. Pohon ini menurut jutaan orang dunia merupakan simbol suci, yang dilakukan oleh masyarakat-masyarakat terdahulu.

Santo Hippolitus Romawi adalah orang pertama yang dengan gamblang menjelaskan al-Masih dilahirkan pada tanggal 25 Desember dan di situ juga lewat sebuah penjelasan memparkan pandangannya tentang buku Nabi Daniel, yang ditulis pada tahun 204 Masehi.

Sebagian penafsir kitab suci mengagap tanggal ini sebagai hari perayaan pembangunan dan pensucan tempat ibadah besar Yerusalem oleh Yehuda Makabe, pada tahun 164 SM.

Tahap selanjutnya pada abad ke empat Masehi, saat hari raya tersebut menggantikan hari raya Romawi yang populer dengan Sol Invictus (matahari yang tak terkalahkan) dan menegaskan bahwa kelahiran Nabi Isa merupakan kemenangan cahaya kebenaran atas kegelapan keburukan dan dosa.

http://www.iqna.ir/fa/news/3555789



Film tentang tempat kelahiran Nabi Isa (As)


Nama:
Email:
* Komentar Anda: